Rabu, 13 Juni 2012

Beramal namun tak Ikhlas

(TULISAN INI DISEBARLUASKAN HARIAN VOKAL, 21 JANUARI 2011)
Muncul sebuah sifat ria menjelang hari Pemilukada di sejumlah kabupaten di Riau. Masing-masing kandidat berlomba-lomba membantu masyarakat. Jika tak ramai orang, tak mau memberi. Tatkala tidak signifikan suara di sana, tak sudi mendermakan harta benda. Intinya cari demi simpati warga.
Menggigil badan Fulan memperhatikan tingkah pola calon pemimpin daerah tersebut. Daerah berada di ambang bahaya. Lebih berbahaya lagi ketika Fulan teringat dengan sebuah kalimat; Sungguh tragis, orang yang beramal namun tak ikhlas. Segala upaya, daya dan harta yang dikeluarkan menjadi sia-sia. Semuanya justru menjadi petaka ketika akhirat tiba.
Abu Hurairah menuturkan: Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya orang yang pertama kali diberi keputusan pada hari kiamat adalah seseorang yang mati syahid. Lalu ia didatangkan di hadapan Allah. Kemudian Allah memperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatanNya yang diberikan kepadanya. Lalu orang tersebut mengakuinya. Allah pun berfirman, “Apa yang kamu kerjakan padanya?”
Ia berkata, “Aku berperang karena diri-Mu, hingga aku mati syahid.”
Allah berfirman, “Engkau telah berdusta. Sesungguhnya engkau berperang agar dikatakan sebagai pemberani dan hal itu telah dikatakan.” Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa lalu diseret mukanya hingga ia dilemparkan ke neraka.
Lalu seseorang yang belajar suatu ilmu kemudian mengajarkannya, dan membaca Alquran lalu didatangkan di hadapan Allah. Kemudian Allah memperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatanNya yang diberikan kepadanya. Lalu orang tersebut mengakuinya. Allah pun berfirman, “Apa yang kamu kerjakan padanya?”
“Aku mempelajari suatu ilmu dan mengajarkannya serta membaca Alquran karena-Mu.” Jawabnya.
Allah berfirman: “Engkau berdusta. Sebenarnya, engkau mempelajari suatu ilmu, mengajarkannya dan membaca Alquran agar dikatakan bahwa engkau adalah orang yang ahli membaca. Dan hal itu telah dikatakan.” Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa lalu diseret mukanya hingga ia dilemparkan ke api neraka.
Lalu ada seorang yang telah Allah berikan kepadanya kelapangan dan berbagai macam harta. Kemudian Allah memperlihatkan kepadanya kenikmatan-kenikmatanNya yang diberikan kepadanya. Lalu orang tersebut mengakuinya. Allah pun berfirman, ‘Apa yang kamu kerjakan padanya?’
Ia menjawab, “Tidak ada suatu jalan yang Engkau senang untuk diberi infak kecuali aku telah mengeluarkan infak padanya demi Engkau.”
Allah berfirman, “Engkau telah berdusta. Tapi engkau melakukannya agar dikatakan sebagai orang yang dermawan dan hal itu telah dikatakan.’ Kemudian diperintahkan agar orang tersebut dibawa, lalu diseret mukanya, kemudian dilemparkan ke dalam neraka.”
“Dalam konteks tanpa kentara rianya, Tuhan sudah membaca penyimpangan niat. Waduh Tuan! Apalagi dengan pesta demokrasi ini,” pikir Fulan. ***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar