Rabu, 13 Juni 2012

Saya tak Suka jadi Pengemis

(Tulisan dipublikasi HARIAN PAGI VOKAL, 4 JULI 2011)
Masih terngiang suara Satuan Mahasiswa Pemuda Pancasila Kota Pekanbaru, Riau kepada Gubernur Riau, HM. Rusli Zainal. Sang musafir ilmu menuntut sang Gubri untuk tidak mengemis ke berbagai perusahaan besar yang ada di Provinsi Riau untuk pembangunan gedung Avenue PON 2012.
Provinsi ini kaya, jangan orang kaya bermental pengemis. Berbahaya kalau karakter sudah jungkir balik. Jatuh marwah diri kalau semuanya diminta-minta. Kita harus berdiri di atas kaki sendiri. Kalau ada yang mau membantu, ya bantulah.  Jangan orang memberi, tapi merasa dipaksa.
Jangan pula lantaran kita berkuasa, kekuasaan dipergunakan sewenang-wenang atas label partisipasi untuk kemajuan. Tidak benar itu wahai Fulan! Yang benar membangun dengan semangat kesadaran dan rasa cinta yang mendalam!
Upss…tersadar Fulan dibuatnya. Sudah lancang diri ini menceramahi pejabat berkuku dan bergigi. Sebelas dengan jari Fulan aturkan mohon maaf Tuan! Tapi Tuan, ada sebuah cerita yang patut kita baca bersama. Mana tahu elok buat penghalusan rasa hati.
Tersebutlah seorang pemuda yang sedang lapar pergi menuju restoran jalanan dan iapun menyantap makanan yang telah dipesan. Saat pemuda itu makan datanglah seorang anak kecil laki-laki menjajakan kue kepada pemuda tersebut, "Pak, mau beli kue, Pak?"
Dengan ramah pemuda yang sedang makan menjawab "Tidak, saya sedang makan".
Anak kecil tersebut tidaklah berputus asa dengan tawaran pertama. Ia tawarkan lagi kue setelah pemuda itu selesai makan, pemuda tersebut menjawab "Tidak dik, saya sudah kenyang".
Setelah pemuda itu membayar ke kasir dan beranjak pergi dari warung kaki lima, anak kecil penjaja kue tidak menyerah dengan usahanya yang sudah hampir seharian menjajakan kue buatan bunda. Mungkin anak kecil ini berpikir "Saya coba lagi tawarkan kue ini kepada bapak itu, siapa tahu kue ini dijadikan oleh-oleh buat orang dirumah".
Ini adalah sebuah usaha yang gigih membantu ibunda untuk menyambung kehidupan yang serba pas-pasan ini. Saat pemuda tadi beranjak pergi dari warung tersebut anak kecil penjaja kue menawarkan ketiga kali kue dagangan.
"Pak mau beli kue saya?" pemuda yang ditawarkan jadi risih juga untuk menolak yang ketiga kalinya, kemudian ia keluarkan uang Rp 1.500,00 dari dompet dan ia berikan sebagai sedekah saja.
"Dik ini uang saya kasih, kuenya nggak usah saya ambil, anggap saja ini sedekahan dari saya buat adik".
Lalu uang yang diberikan pemuda itu ia ambil dan diberikan kepada pengemis yang sedang meminta-minta. Pemuda tadi jadi bingung, lho ini anak dikasih uang kok malah dikasih kepada orang lain.
"Kenapa kamu berikan uang tersebut, kenapa tidak kamu ambil?"
Anak kecil penjaja kue tersenyum lugu menjawab, "Saya sudah berjanji sama ibu di rumah ingin menjualkan kue buatan ibu, bukan jadi pengemis, dan saya akan bangga pulang ke rumah bertemu ibu kalau kue buatan ibu terjual habis. Dan uang yang saya berikan kepada ibu hasil usaha kerja keras saya. Ibu saya tidak suka saya jadi pengemis".
Pemuda tadi jadi terkagum dengan kata-kata yang diucapkan anak kecil penjaja kue yang masih sangat kecil buat ukuran seorang anak yang sudah punya etos kerja bahwa "kerja itu adalah sebuah kehormatan", kalau dia tidak sukses bekerja menjajakan kue, ia berpikir kehormatan kerja dihadapan ibunya mempunyai nilai yang kurang, dan suatu pantangan bagi ibunya, anaknya menjadi pengemis, ia ingin setiap ia pulang kerumah ibu tersenyum menyambut kedatangannya dan senyuman bunda yang tulus ia balas dengan kerja yang terbaik dan menghasilkan uang.
Kemudian pemuda tadi memborong semua kue yang dijajakan lelaki kecil, bukan karena ia kasihan, bukan karena ia lapar tapi karena prinsip yang dimiliki oleh anak kecil itu "kerja adalah sebuah kehormatan" ia akan mendapatkan uang kalau ia sudah bekerja dengan baik. ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar